KOLAKA,SULTRAPOS, COM–Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sulawesi Tenggara menuding PT Vale dan PT IPIP adalah Dalang yang menyebabkan terjadinya Banjir Lumpur di Pomalaa Kolaka,SulawesiTenggara.
Itulah sebabnya Walhi Sultra mengecam keras terjadinya banjir lumpur yang melanda Desa Oko dan Lamedai, Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka.
Bencana yang berulang ini dinilai sebagai bukti bahwa kawasan tersebut tengah menghadapi krisis ekologis akibat aktivitas industri nikel.
Menurut hasil pemantauan Walhi Sultra, musibah ini dipicu oleh maraknya pembukaan lahan skala besar yang dilakukan untuk proyek kawasan industri PT Indonesia Pomalaa Industry Park (IPIP) dan PT Vale Indonesia Tbk.
Aktivitas pembukaan lahan tersebut tidak disertai pengendalian lingkungan yang memadai, sehingga memicu hilangnya tutupan hutan dan meningkatnya sedimentasi di daerah aliran sungai (DAS).
Kondisi itu membuat aliran sungai tak mampu menahan debit air saat hujan deras turun. Akibatnya, banjir lumpur meluap ke permukiman serta area persawahan warga.
Walhi menegaskan bahwa kedua perusahaan tersebut tidak mengelola dampak lingkungannya sesuai izin yang dimiliki.
Rusaknya lahan pertanian, tercemarnya sumber air bersih, serta mengalirnya lumpur merah ke sungai disebut sebagai bukti nyata pelanggaran hak masyarakat atas lingkungan hidup yang bersih dan sehat.
“Kami sudah berkali-kali mengingatkan bahwa wilayah Pomalaa sedang berada di ambang krisis ekologis,” tegas Andi Rahman, Direktur Eksekutif WALHI Sulawesi Tenggara.
“Setiap kali hujan datang, masyarakat harus bersiap menghadapi banjir lumpur akibat kelalaian perusahaan. PT IPIP dan PT Vale Indonesia tidak menghormati izin lingkungannya dan telah mengabaikan keselamatan rakyat,”
tambah Andi Rahman. (***)






