Skandal Dugaan Pembongkaran Puskesmas Kombikuno: Kepentingan Siapa yang Didahulukan?

Sekitar 80% masyarakat Kombikuno, yang di dalamnya termasuk pemuda, tokoh masyarakat, hingga warga biasa, secara tegas menyatakan penolakan keras terhadap rencana tersebut. Bagi mereka, ini bukan sekadar pemindahan bangunan, tetapi bentuk nyata pengabaian hak dasar masyarakat atas layanan kesehatan.

KOMBIKUNO, MUNA BARAT, SULTRA POS, COM–  Gelombang kemarahan publik mulai membesar. Dugaan rencana pembongkaran Puskesmas di Desa Kombikuno yang akan dipindahkan ke Desa Umba, demi pembangunan Koperasi Merah Putih, dinilai sebagai bentuk kebijakan yang tidak masuk akal dan tidak berperikemanusiaan.

Sekitar 80% masyarakat Kombikuno, yang di dalamnya termasuk pemuda, tokoh masyarakat, hingga warga biasa, secara tegas menyatakan penolakan keras terhadap rencana tersebut. Bagi mereka, ini bukan sekadar pemindahan bangunan, tetapi bentuk nyata pengabaian hak dasar masyarakat atas layanan kesehatan.

Sejumlah pemuda Kombikuno bahkan menyebut rencana ini sebagai bentuk kebijakan yang cacat logika dan minim empati.

“Kami mempertanyakan akal sehat para inisiator. Bagaimana mungkin fasilitas kesehatan yang menyangkut nyawa manusia justru dikorbankan demi proyek koperasi? Ini bukan sekadar keliru, ini keterlaluan,” tegas salah satu perwakilan pemuda.

Mengorbankan Hak Dasar Demi Proyek?

Baca Juga:  Gubernur Sultra Melaunching Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat Al-Alam

Puskesmas bukan sekadar aset fisik. Ia adalah simbol kehadiran negara dalam menjamin hak kesehatan rakyat. Ketika fasilitas ini hendak dibongkar dan dipindahkan tanpa jaminan akses yang lebih baik, maka yang terjadi adalah pengkhianatan terhadap tanggung jawab negara.

Pemindahan ke Desa Umba justru berpotensi:

memperpanjang jarak tempuh masyarakat Kombikuno

memperlambat penanganan pasien darurat

dan meningkatkan risiko bagi kelompok rentan seperti ibu hamil dan lansia

Namun ironisnya, semua itu seolah dianggap sepele oleh pihak-pihak yang menggagas rencana ini.

Aroma Kepentingan di Balik Koperasi Merah Putih

Yang paling memicu kemarahan warga adalah dugaan bahwa lahan puskesmas akan dialihfungsikan menjadi Koperasi Merah Putih.

 

Pertanyaan publik pun menguat:

👉 Mengapa fasilitas kesehatan harus dikorbankan untuk kepentingan ekonomi?

👉 Siapa sebenarnya yang diuntungkan dari proyek ini?

Masyarakat menilai, keputusan ini tidak mencerminkan prioritas pembangunan yang sehat. Justru muncul dugaan bahwa ada kepentingan tertentu yang lebih diutamakan dibanding keselamatan warga.

Baca Juga:  Pemprov Sultra Hadiri Rakor Virtual M2 Januari, Bahas Inflasi

Patut Diduga Melanggar Aturan

Secara hukum dan tata kelola pemerintahan, rencana ini patut dipertanyakan serius. Sebab:

Puskesmas merupakan fasilitas pelayanan dasar yang wajib dijaga keberadaannya

Pemindahan harus melalui kajian teknis dan persetujuan resmi, bukan keputusan sepihak

Pengalihan fungsi aset negara tanpa prosedur bisa dikategorikan sebagai penyalahgunaan wewenang

Jika dugaan ini benar, maka bukan tidak mungkin ini masuk dalam ranah: 👉 maladministrasi

👉 bahkan indikasi pelanggaran hukum

Pemuda dan Warga Siap Melawan

Pemuda Kombikuno menegaskan bahwa mereka tidak akan tinggal diam melihat kebijakan yang dinilai merugikan rakyat.

“Ini bukan soal bangunan, ini soal nyawa. Kalau tetap dipaksakan, kami siap turun ke jalan. Jangan uji kesabaran masyarakat,” ujar salah satu tokoh pemuda dengan nada keras.

Baca Juga:  Eks Penyidik: SP3 KPK di Kasus Tambang Rp 2,7 T Benar-benar Aneh

Dengan dukungan sekitar 80% masyarakat, gelombang penolakan ini berpotensi berkembang menjadi aksi yang lebih besar jika pemerintah tetap bersikeras.

Desakan Terbuka kepada Pemerintah Daerah

Masyarakat kini mendesak:

Hentikan rencana pembongkaran puskesmas Kombikuno

Transparansi penuh terkait proyek Koperasi Merah Putih

Utamakan kepentingan kesehatan masyarakat, bukan proyek tertentu

Jika terbukti ada pelanggaran, usut dan tindak pihak yang terlibat

Kesimpulan: Ini Bukan Sekadar Kebijakan, Ini Ujian Moral

Kasus ini bukan hanya soal pembangunan, tetapi tentang keberpihakan. Apakah pemerintah berdiri bersama rakyat, atau justru berpihak pada kepentingan lain?

Jika benar puskesmas dikorbankan demi proyek koperasi, maka ini adalah preseden buruk dalam tata kelola pemerintahan—di mana hak dasar rakyat dikalahkan oleh agenda yang patut dipertanyakan.

Dan satu hal yang pasti:

Masyarakat Kombikuno tidak akan diam. (Farhan)

Pos terkait